Article View: cu.indonesia
Article #48tes
From: nirbahu
Date: Wed, 08 Aug 2007 12:04
Date: Wed, 08 Aug 2007 12:04
162 lines
7318 bytes
7318 bytes
maya wrote:
Kemudian ashiqi bersenandung rindu. Katanya:
> Ketika jiwamu dihasut rindu, alam ini terjubah dengan cintamu.
Kesadaran diri meluas tanpa batas meliputi segala arah. Tidak ada lagi
dualitas antara yang satu dengan yang lain. Yang ada hanyalah satu
entitas tunggal yang tidak bisa dijelaskan lewat kata-kata; tidak bisa
dijelaskan lewat kata-kata, karena kata-kata berasal dari pikiran;
sedangkan Kita (sang entitas tunggal itu) berada di luar medan
pikiran.
Aku
> mendakapmu, engkau menempati aku.
Kita berada di atas manusia, sehingga kita bisa meng-atas-i dan
meliputi manusia; sedangkan manusia telah mengalami perluasan sehingga
ia terlampaui. Ia terlampaui seperti kulit telur terlampaui atau
pecah,
saat anak ayam terlihat keluar dari dalamnya.
Mengapa saya memberi perumpamaan seperti itu?
Karena sesungguhnya hubungan antara Kita dengan manusia adalah seperti
anak ayam dengan telur. Kita adalah anak ayamnya, manusia adalah
telurnya. Dan kalau "kulit telur manusia" sudah pecah, Kita akan
keluar
dari manusia.
Dan setelah kulit telur manusia pecah, pengidentitasan diri sebagai
manusia tidak mungkin lagi, sebab yang tersisa hanyalah Diri Kita yang
bukan manusia. Identitas semu sebagai manusianya sendiri telah lenyap
ke dalam identitas baru sebagai Diri Kita yang bukan manusia.
Singkatnya, Kita "mendekap" manusia, manusia lenyap ke dalam Kita. Dan
pada saat ini tidak ada lagi dualitas. Dan karena tidak ada dualitas,
maka sesungguhnya istilah aku dan engkau juga bukan istilah yang
tepat.
Tidakkah engkau menyedari? Kemana
> hendak engkau lari wahai kekasih, ruang dan waktu bukan batasan
jubahku
> ini..
Ruang dan waktu eksis dalam alam pikiran. Di atas pikiran atau di luar
medan pikiran ruang dan waktu tidak eksis. Dan karena hal inilah para
bijak dari Asia selatan sering mengatakan bahwa ruang dan waktu adalah
Maya atau Ilusi Kosmis.
Disebut ilusi kosmis, karena ruang dan waktu hanyalah hayalan atau
pikiran AKU (maaf, dalam alinea ini saya tidak memakai kata KITA, saya
memakai kata AKU; tetapi maksudnya sama saja- sony). Konon katanya
pada
saat AKU berpikir, maka terciptalah alam semesta. Jadi kalau
seandainya
pada suatu saat AKU berhenti berpikir, mungkin alam semesta ini akan
lenyap.
Tetapi masalahnya mungkinkah AKU bisa berhenti berpikir. Bukankah
pengalaman menunjukkan bahwa pikiran tidak pernah berhenti, termasuk
saat sedang tidur. Bukankah mimpi-mimpi yang kita alami saat sedang
tidur menunjukkan keaktifan pikiran?
Jadi begitu juga dengan AKU, IA juga tidak pernah berhenti berpikir.
Dan karena AKU adalah abadi, maka sesungguhnya keberadaan mimpinya
(alam semesta ini) juga abadi.
> Kemana aku melihat itulah wajahmmu. Kemana sahaja kau menghadap
itulah
> wajahku. Semua arah menujuku, bersatu dengan arahmu.
Aku dan engkau sesungguhnya adalah satu entitas. "Aku" merujuk pada
Diri Kita, sedangkan "engkau" merujuk pada manusia. Kita berada dalam
manusia sebelum "kulit telur manusia" pecah; Kita keluar dari manusia
pada saat "kulit telur manusia" pecah. Setelah Kita keluar dari
manusia, maka manusia sesungguhnya sudah 'mati'. Dan karena sudah mati
maka yang tersisa hanyalah Diri Kita, satu entitas tunggal. Dan karena
yang tersisa hanyalah satu entitas tunggal, maka terserah mau
menyebutnya apa. Mau menyebutnya "aku", silahkan! Mau menyebutnya
"engkau" juga silahkan! saya sendiri lebih suka menyebutnya sebagai
Kita.
Karena itu:
"Kemana aku melihat itulah wajahmmu", berarti:
Kemanapun kita melihat itulah wajah Kita.
"Kemana sahaja kau menghadap itulah wajahku", berarti:
Kemana saja kita menghadap itulah wajah Kita.
Semua arah menujuku, bersatu dengan arahmu., berarti:
Semua arah menuju Kita, dan Kita menuju dan meluas kesemua arah.
Jika aku melihat
> engkau, engkau tidak mampu menoleh dariku.
Apakah seseorang bisa menoleh dan melihat wajahnya sendiri? Tidak bisa
bukan? Kita hanya bisa melihat diri Kita sendiri kalau kita punya
cermin, cermin manusia, cermin jiwa atau cermin ego. Cermin jiwa
itulah
yang menciptakan dualitas aku dan engkau; padahal cerminnya saja sudah
pecah, bagaimana mungkin kita bisa bercermin. Kalau tidak ada cermin,
maka tidak ada pula yang terbayang (maksudnya yang terbayang dalam
cermin- sony); dan karena tidak ada yang terbayang Kita juga tidak
bisa
menoleh untuk melihat bayangan kita. Dan karena bayangan kita tidak
ada, maka dualitas engkau dan aku juga tidak ada; yang ada hanyalah
"aku" saja, atau "engkau" saja; terserah mau menyebutnya apa, "aku"
atau "engkau".
Dan karena hanya ada satu entitas tunggal, maka "yang melihat" adalah
sama dengan "yang dilihat" ("yang melihat"="yang dilihat").
Kedua-duanya adalah Diri Kita sendiri. Karena itu tidak heran kalau
Kita tidak bisa menoleh kemana-mana untuk melihatnya, melihat diri
Kita
itu, hehehehe ....
Jasad hanya mungkin bersama
> tetapi tidak bersatu,
Betul! Karena jasadmu berbeda dari jasadku. Lahirnya tidak bersama,
begitupula matinya juga sendiri-sendiri.
tetapi kasih berkasih tidak begitu. Arahnya satu,
> jiwa bersatu hingga tiada duanya.
Dalam Kasih yang ada hanyalah Kasih atau Aku atau Kita saja.
Laksana air dengan jernihnya,
Kita adalah air, manusia adalah jernihnya.
cahaya
> dengan terangnya,
Kita adalah cahaya, manusia adalah terangnya.
api dengan panasnya.
Kita adalah api, manusia adalah panasnya.
Aku dan engkau!..
Dalam hal ini Kita disebut sebagai Aku oleh Ashiqi, sedangkan manusia
kita, manusia kita yang merupakan pakaian yang Kita kenakan itu
disebut
"engkau" oleh beliau. Saya menyebut manusia sebagai pakaian, karena
manusia bukanlah diri Kita, ia adalah penutup diri Kita, ia adalah
selubung diri Kita.
> Ini mustahil, terlalu sulit untuk dimengerti. Dalam gelap mata tak
> dapat melihat. Dalam terangpun mata begitu keliru lantaran silau,
tidak
> tahu barang di hadapan mata..
Gelap dan terang adalah kondisi atau keadaan pikiran. Pikiran yang
'gelap' ataupun yang 'terang' sama-sama tidak bisa tahu tentang yang
bukan pikiran, atau yang melampaui pikiran. Pikiran hanya bisa
menciptakan maya, ilusi atau hijab. Terang atau gelap itulah maya atau
ilusi yang diciptakan oleh pikiran.
Technical Details
Message-ID:
<1186574644.728471.197440@g12g2000prg.googlegroups.com>Path:
arc1-ca.pugleaf.net!g2news2.google.com!postnews.google.com!g12g2000prg.googlegroups.com!not-for-mailShow Full Headers
Complete Article Headers
X-Google-Thread: 111597,59c171c44b25126e,start X-Google-Attributes: gid111597,public,usenet X-Google-Language: INDONESIAN,ASCII-7-bit Path: arc1-ca.pugleaf.net!g2news2.google.com!postnews.google.com!g12g2000prg.googlegroups.com!not-for-mail From: nirbahu@gmail.com Newsgroups: cu.indonesia Subject: tes Date: Wed, 08 Aug 2007 05:04:04 -0700 Organization: http://groups.google.com Lines: 163 Message-ID: <1186574644.728471.197440@g12g2000prg.googlegroups.com> NNTP-Posting-Host: 203.130.228.162 Mime-Version: 1.0 Content-Type: text/plain; charset="iso-8859-1" X-Trace: posting.google.com 1186574647 20309 127.0.0.1 (8 Aug 2007 12:04:07 GMT) X-Complaints-To: groups-abuse@google.com NNTP-Posting-Date: Wed, 8 Aug 2007 12:04:07 +0000 (UTC) User-Agent: G2/1.0 X-HTTP-UserAgent: Mozilla/5.0 (Windows; U; Win98; en-US; rv:1.8.1.1) Gecko/20061204 Firefox/2.0.0.1,gzip(gfe),gzip(gfe) Complaints-To: groups-abuse@google.com Injection-Info: g12g2000prg.googlegroups.com; posting-host=203.130.228.162; posting-account=ps2QrAMAAAA6_jCuRt2JEIpn5Otqf_w0