🚀 go-pugleaf

RetroBBS NetNews Server

Inspired by RockSolid Light RIP Retro Guy

1 total messages Started by Hangtuah Digital Library Mon, 23 Mar 2009 04:08
Parodi
#38
Author: Hangtuah Digital Library
Date: Mon, 23 Mar 2009 04:08
112 lines
7036 bytes
"Copy Paste"

Saya membaca bukunya Warren Buffett. Tahukah Anda siapa dia? Capcai
ah… cari aja ndiri. He-he-he … saya bercanda, jangan naik pitam dulu.
Cepat marah itu tak sehat. Katanya. Saya membuktikan itu benar adanya.
Yang sehat saya, yang tidak sehat orang lain, maksudnya.

Warren Buffett adalah nama seorang pria, sampun sepuh, pemilik
perusahaan investasi terkemuka di Amrik, bukan di Indonesia.

Mengapa saya membeli buku salah satu orang terkaya yang sempat
menggeser posisi Bill Gates sebagai juara satu itu? Hanya satu alasan
saja. Saya ingin kaya seperti Pak Buffett. Sama seperti keinginan
manusia umumnya. Maksud saya, manusia yang umumnya memang senang uang.
Mau itu dasarnya rakus, setengah rakus, atau baru mau jadi rakus.

Bercita-cita menjadi Buffet
Padahal, di sebuah majalah yang pernah saya baca, Pak Buffett tak
pernah bercita-cita jadi kaya meski ia pandai mencari uang sejak kecil
saat teman-temannya belum punya niat mendapatkan uang seperti dia.
Saya justru selalu bercita-cita jadi kaya sejak kecil, tetapi tak
punya naluri seperti Pak Buffett.

Makanya sampai sekarang cita-cita saya itu masih menyala-nyala karena
waktu kecil bisanya cuma mainan, setelah remaja dan setengah dewasa
masih minta uang ke Ayah. Sekolah di dalam dan luar negeri juga atas
biaya ortu karena Tuhan menganugerahi saya otak yang tidak
memungkinkan mendapat beasiswa. Maka. kalau saya berdoa untuk Ayah,
doanya semoga ia diberi panjang umur. Alasannya bukan karena saya anak
berhati mulia, tetapi agar Ayah tetap hidup dan punya uang. Selama ia
masih hidup dan punya uang, selama itu saya bisa mendapatkan
”beasiswa”.

Kalau melihat keadaan saya dan membandingkan dengan Pak Buffett,
weleh, weleh, saya kok cuma punya apartemen di daerah bintang tujuh.
Pusing maksudnya. Karena bus, kopaja, dan teman-temannya sering kali
membuat taksi atau kalau kebetulan diantar mobil teman, kesulitan
menyeberang jalan masuk.

Sampai hari ini saya tak punya pulau pribadi atau pesawat pribadi.
Sementara teman saya dan temannya teman saya itu malah sudah bolak-
balik terbang dengan ”kendaraan” pribadinya itu dan mengundang saya
sesekali ke pulau. Sesekali lho karena mereka tidak menganggap saya
teman dekat.

Seperti pesta jetset yang saya hadiri dua minggu lalu, yang telah
membuat beberapa kalangan jetset yang tak diundang mengajukan aksi
protes. Tak sampai demo, tentunya, tetapi sudah cukup membuat pihak
pengundang kewalahan menjawab pertanyaan, mengapa saya tak diundang.
Saya sampai geleng kepala, sebegitu pentingnyakah atau perlunya sampai
mereka harus protes?

Saya teringat dahulu, kala saya masih seperti itu. Harus diakui ada
rasa tersisihkan karena tak diundang dan merasa tidak dianggap. Tak
bisa sama seperti yang diundang. Jadi, dulu saya ini tukang minta-
minta. Minta diundang, maksudnya. Selalu bekerja keras, agar bisa
hadir di mana-mana.

Menjadi ”Buffet”
Nah, saat saya berlibur di pulau teman itu saya menengadahkan kepala
ke atas dan berkata. ”Tuhan di manakah letak keadilan yang beradab
itu?” Kok orang sampai bisa beli pulau, sementara tanah 200 meter
persegi yang ditawarkan teman saya saja tak mampu saya beli. Teman
saya mengajarkan untuk copy paste gaya para koruptor.

Sempat saya pikirkan ide itu. Tetapi, di buku yang saya baca, Pak
Buffett tak korupsi. Namanya juga lagi getol mau seperti Pak Buffett,
yaaa … saya pikir nurut apa kata dia saja.

Kalau Pak Buffett bermain saham, saya juga bermain saham. Pasar lagi
ambruk, saya juga ikut ambruk. Tetapi, pesan seorang penulis mengenai
Pak Buffett, yang saya baca di sebuah majalah keuangan buatan
Indonesia, begini, ”Ingat strategi Buffett, ia membeli saham ketika
pasar sedang jatuh. Ia berani masuk ketika orang lain takut. Dan,
hasilnya, ia rasakan dalam jangka panjang.” Makanya, saya masuk ke
pasar saham di tengah pasar yang gitu deh itu.

Kemudian saya tertawa. Maksud saya, menertawakan diri sendiri. Saya
tak membaca dengan hati-hati kalimat si penulis tadi. Ia berani masuk
ketika orang takut. Der… saya terdiam, tertunduk tanda tak mampu. Saya
hanya ingin seperti dia, saya lupa instrumen lain yang dia miliki tak
saya miliki.

Saya pengecut, tak berani seperti Buffett. Saya tak punya nyali
seperti Buffett. Jadi, mau kaya ternyata bukan cuma baca bukunya,
tetapi nyali dan luck juga menentukan. Itu kemudian yang membuat saya
mundur teratur untuk tidak melakukan copy paste.

Buffett dan saya dua sosok berbeda. Yang tak memiliki kekuatan mental
sama. Setelah saya kehilangan lebih dari 50 persen investasi, saya
seperti dihujam pisau. Dengan mental macam tempe, saya kapok. Itu yang
membedakan saya dari orang terkaya itu. Dia tidak takut, saya takut.

Dan, justru yang lebih penting dari semua itu adalah sensitivitas.
Tingkat kepekaan yang berbeda. Saya tak memiliki kepekaan yang sama.
Bahkan, saya tak peka kapan harus menarik dan kapan harus mengulur.
Nalar saya tak secanggih milik pria sepuh itu saat bermain ”layangan”.
Saya canggih main tarik-ulur di tempat lain.

Maka, setelah saya membaca buku Pak Buffett, saya salut dengan dia.
Saya memutuskan berhenti menjadi kaya seperti dirinya. Karena
kemampuan saya menjadi kaya bukan hanya bermodalkan membaca bukunya
dan mendengar teori bermain layangan. Saya perlu banyak hal dan ada
instrumen lain yang diperlukan untuk itu. Instrumen itu tak ada pada
saya.

Nurani saya nyeletuk, ”Mas, lo enggak bakal jadi seperti Buffett.
Jadi, seperti buffet, ya.”

Samuel Mulia Penulis Mode dan Gaya Hidup
© Kompas
http://resep.hangtuah.or.id
Thread Navigation

This is a paginated view of messages in the thread with full content displayed inline.

Messages are displayed in chronological order, with the original post highlighted in green.

Use pagination controls to navigate through all messages in large threads.

Back to All Threads