🚀 go-pugleaf

RetroBBS NetNews Server

Inspired by RockSolid Light RIP Retro Guy

1 total messages Started by Hangtuah Digital Library Mon, 23 Mar 2009 18:13
Menanti Fajar di Papandayan
#68
Author: Hangtuah Digital Library
Date: Mon, 23 Mar 2009 18:13
97 lines
6496 bytes
Menanti fajar terbit di puncak gunung

JARUM jam menunjukkan pukul 01.00 ketika rombongan Garut Fam Trip yang
terdiri dari perwakilan biro perjalanan wisata dari Bandung dan
Jakarta dan sejumlah wartawan dibangunkan oleh panitia. Berat rasanya
membuka mata dan memaksakan kaki untuk melangkah ketika orang lain
sedang nikmat-niktmatnya tidur.

Garut Fam Trip adalah sebuah kegiatan tur keliling yang diprakarsai
oleh beberapa pengelola hotel dan restoran di Garut beberapa waktu
lalu. Tujuannya adalah mengenalkan lebih dekat obyek-obyek wisata yang
potensial di daerah kaya panas bumi itu sehingga agen perjalan wisata
bisa mempromosikannya kepada wisatawan asing.

Satu kegiatan yang paling dinanti oleh semua peserta adalah menanti
terbitnya sang fajar di puncak Gunung Papandayan. Untuk itu, kami
harus berjuang melawan kantuk untuk bangun dan bergegas berangkat
menuju gunung yang berada di Kecamatan Cisurupan itu.

Ya, menanti matahari terbit dari puncak Gunung Papandayan. Motivasi
itulah yang menjadi pendorong para peserta Garut Fam Trip tetap
berangkat. Ada sekitar lima kendaraan termasuk dua bus yang mengangkut
para peserta.

Menurut Ketua Panitia Garut Fam Trip Goya A Mahmud, seperti halnya di
Gunung Bromo, menanti matahari terbit di Gunung Papandayan juga
potensial untuk dikemas dalam paket perjalan wisata. Diharapkan, ini
menjadi ikon baru wisata Garut.

Perjalanan menuju Papandayan dini hari itu berjalan lancar karena
memang pada jam segitu jalan raya sangat sepi. Pukul 02.30 rombongan
tiba di tempat parkir obyek wisata Gunung Papandayan. Begitu keluar
dari mobil hawa dingin menusuk tulang pun langsung terasa. Para
peserta harus mengenakan jaket, sarung tangan, penutup kepala, dan
sepatu untuk mengurangi rasa dingin.

Setelah berdoa bersama kami pun melangkahkan kaki menuju lokasi yang
dituju. Berbekal lampu senter kami berjalan beriringan satu-satu. Dari
kejauhan, peserta rombongan yang membawa lampu senter bagaikan kunang-
kunang yang berjalan beriringan di gelapnya malam.

Di 10 menit pertama perjalanan belum berat. Semakin tinggi kita
mendaki semakin berat kaki untuk melangkah. Jantung berdetak kencang
dan keringat mulai bercucuran. Beberapa di antara kami harus berhenti
sejenak mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan.

Di ketinggian tertentu rombongan melewati kawah yang mengepulkan asap
dan mengeluarkan suara mendesis. Bau belerang pun menyengat hidung.
Tidak terasa 45 menit telah berlalu ketika kami sampai di lokasi yang
dituju. Lega rasanya rasa letih ini harus berakhir, setidaknya untuk
beberapa saat. Sebabnya, kami masih harus mengeluarkan tenaga dalam
perjalan pulang menuruni gunung.

Dua buah meja yang di atasnya ada dua termos air panas, gelas, kopi,
susu, teh, dan gula sudah men anti kami di puncak Papandayan. Semua
peserta membuat minumannya sendiri sesuai selera untuk menghangatkan
badan.

Terlalu cepat kami sampai di puncak sehingga masih banyak waktu sampai
matahari terbit. Sambil menunggu waktu sunrise yang pas peserta b
erlindung di balik perdu untuk menghindari hembusan angin yang sangat
dingin. Ada juga yang membuat api unggun. Sementara panitia sibuk
memasak makanan untuk sarapan. Semburat sinar matahari mulai terlihat.
Semua peserta tur pun langsung berkumpul menghadap ke timur menanti
sang surya terbit. Di kejauhan terlihat Gunung Cikuray.

Sayangnya, saat itu cuaca tidak bersahabat sehingga keindahan sinar
matahari di pagi hari tidak terlihat sempurna. Bentuk matahari yang
bulat yang kami nanti-nanti pun tidak nampak. Sang surya tetap
tertutup awan. Hanya cahayanya saja yang perlahan menyinari bumi.

Peserta sedikit kecewa. Untuk mengobati kekecewaan kami pun berfoto
bersama memanfaatkan latar keindahan Gunung Cikuray yang menyembul
dari balik kabut di pagi hari.

Puas berfoto, nasi goreng sudah menanti. Kami pun sarapan nasi goreng
yang cepat sekali dingin karena udara. Usai sarapan, rombongan peserta
bergegas menuruni gunung menuju kendaraan. Kami pun mluncur pulang.

Ternyata sensasi wisata yang disajikan panitia kepada peserta tidak
cukup sampai di situ. Ada kegiatan lain yang tak kalah menantang dari
menanti fajar di puncak gunung. Di tengah perjalanan pulang tepatnya
di Kecamatan Bayongbong kendaraan berhenti. Semua peserta berganti
pakaian dan meninggalkan semua barang berharga di kendaraan.

Peserta pun kemudian menuju Sungai Cimanuk. Perahu karet sudah menanti
di sana. Saatnya peserta mengarungi jeram Sungai Cimanuk sepanjang
lebih kurang 8 kilometer menuju pusat kota Garut. Pengarungan ini
membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam.

Tidak ada ruginya mencoba tur seperti itu. Menanti fajar terbit di
puncak gunung, pulang sambil mengarungi jeram, dan diakhiri berendam
air hangat di Cipanas Garut. Makanya, ayo berwisata ke Garut....

Adithya Ramadhan
© 2009 Kompas
http://resep.hangtuah.or.id
Thread Navigation

This is a paginated view of messages in the thread with full content displayed inline.

Messages are displayed in chronological order, with the original post highlighted in green.

Use pagination controls to navigate through all messages in large threads.

Back to All Threads