🚀 go-pugleaf

RetroBBS NetNews Server

Inspired by RockSolid Light RIP Retro Guy

2 total messages Started by Hangtuah Digital Library Sat, 04 Apr 2009 10:56
Bagi yang suka keluyuran malam
#72
Author: Hangtuah Digital Library
Date: Sat, 04 Apr 2009 10:56
105 lines
6910 bytes
Nasi Uduk Bang Bule

Bagi yang suka keluyuran malam, nongkrong di warung makan adalah salah
satu agenda yang kudu dilakukan. Selain untuk mengobati rasa lapar,
warung makan kerap digunakan untuk kongkow-kongkow dan bertukar
pikiran.

Di salah satu sudut Kota Bekasi, tepatnya di Jalan Mayor Oking, Pasar
Proyek, Bekasi Timur, terdapat sebuah warung nasi uduk yang selalu
ramai setiap saat meskipun tengah malam. Bahkan pejabat di Kota Bekasi
pun kerap terlihat ngobrol santai di warung ini.

Warung nasi uduk itu milik Mustofa alias Bang Bule (51). Posisinya
berada di emperan pertokoan di Kawasan Pecinan Kota Bekasi, tepatnya
sekitar 50 meter dari Pasar Proyek Kota Bekasi. Warung Bang Bule ini
buka setiap hari sejak pukul 20.30 hingga pukul 02.00.

Meskipun pejabat nongkrong di situ, jangan harap warungnya mewah
banget. Bentuknya terbilang sangat sederhana, hanya beratapkan kanopi
toko dan tanpa papan nama. Tiga meja panjang dijajarkan di emperan
toko tersebut untuk menaruh makanan dan tempat untuk makan para
pengunjung. Namun, biar pun sederhana yang mau menyantap nasi uduk
sampai harus antre.

Ramainya orang yang antre ternyata menjadi daya tarik sendiri sehingga
semakin banyak yang antre. Banyak orang yang melintas di Jalan Mayor
Oking penasaran dan ingin tahu seberapa enaknya nasi uduk di warung
tersebut. Hal itu pula yang membuat Warta Kota singgah.

Belakangan diketahui bahwa menu makanan yang disajikan di warung
tersebut cukup lengkap. Selain menu utama semur jengkol dengan bumbu
kecap khusus, Mustofa juga memiliki menu andalan lainnya, seperti soun
godog yang rasanya manis, semur tahu dan tempe, empal daging, hingga
dendeng sapi.

Menurut Rahmat, anak ke dua Mustofa, nasi uduk serta lauk-pauk buatan
ayahnya banyak digandrungi warga lantaran rasanya yang beragam.
"Makanan buatan bapak saya banyak rasanya. Nasi uduknya gurih, semur
jengkolnya asin karena disemur dengan kecap kusus sementara sayur
sounnya manis. Belum lagi rasa pedas dari sambal cabe rawit hijau,"
ujar Rahmat.

Turun -temurun

Disela kesibukannya melayani pelanggan, Mustofa menuturkan bahwa usaha
berdagang nasi uduk yang digelutinya saat ini adalah usaha turun-
temurun yang diwariskan oleh ayahnya, Mamak. "Bapak saya sudah
berdagang nasi uduk sejak tahun 60-an. Sementara saya mengikuti bapak
berdagang sejak tahun 70-an," ujar Mustofa yang juga telah menurunkan
ilmu memasak nasi uduk kepada Rahmat, anak ke duanya serta sejumlah
keponakannya.

Dikisahkan Mustofa bahwa awalnya ayahnya membuka warung nasi uduk di
areal pasar Sapi. Di tahun 60-an Pasar Sapi terletak di tepi Jalan Ir
Juanda bersinggungan dengan Kali Bekasi. Saat ini areal pasar sapi
dijadikan bangunan Pasar Proyek Bekasi. Setelah kurang lebih sepuluh
tahun berdagang nasi uduk di Pasar Sapi, Mamak dan Mustofa pindah
warung ke daerah Pasar Baru Bekasi yang terletak di dekat Terminal
Bekasi hingga tahun 1999.

"Karena di lokasi Pasar Baru kondisinya kotor dan becek, akhirnya
warung kami sepi pembeli. Maka dari itu saya memutuskan untuk pindah
lagi ke daerah Pasar Proyek itupun berdasarkan anjuran saudara saya
yang memiliki toko ini," ujar Mustofa yang tinggal di Jalan Mawar RT
05/02, Bekasi Timur, tidak jauh dari tempatnya berdagang.

Lantaran menumpang di emperan toko maka Mustofa hanya bisa berdagang
pada malam hari. Namun tidak disangka olehnya, malam hari itu justru
membawa keberuntungan. "Awalnya kami memang enggak kepikiran cari
pangsa pasar pembeli makanan di malam hari. Tapi dagang malam hari
malah ramai. Banyak warga yang datang, tidak hanya itu saja, sejumlah
pejabat di Kota Bekasi baik Walikota dan Wakil Walikota baik yang
sekarang maupun yang terdahulu sering makan di sini," ujar Rahmat.

Menurut Ali Anwar, Budayawan dan pemerhati Bekasi yang kebetulan juga
tengah menikmati nasi uduk Mustofa, dirinya merupakan salah satu
penggemar. Setiap malam setelah pulang bekerja di Jakarta, Ali Anwar
menyempatkan diri untuk makan di warung tersebut.
"Warga Bekasi kan banyak yang kerja di Jakarta. Biasanya dari Jakarta
suka terburu-buru pulang ke Bekasi karena takut ketinggalan kereta dan
lupa makan. Akhirnya makannya di Bekasi. Kebetulan warung ini
lokasinya tidak jauh juga dari Stasiun Bekasi," ujar Ali Anwar.

Semur jengkol

Lebih lanjut Ali Anwar mengatakan bahwa kekhasan makanan buatan
Mustofa ada pada lauk-pauk. "Semur jengkol dan sayur sounnya lain dari
warung nasi uduk pada umumnya. Selain itu masakan di sini sepertinya
cocok untuk lidah seluruh warga, buktinya yang datang bukan hanya
warga Bekasi asli tapi ada juga warga etnis lain," ujar Ali Anwar.
Bahkan menurut Rahmat, pelanggannya bukan hanya dari wilayah Kota
Bekasi melainkan dari wilayah Kerawang, Cikarang, hingga Jakarta
Timur.

Meskipun warung nasi uduknya sudah dikenal hampir sebagian besar warga
Bekasi, serta keuntungan yang dihasilkan sudah bisa untuk mendirikan
warung yang lebih besar dan nyaman, Mustofa enggan pindah dari tempat
berdagangnya saat ini. "Saya mau melestarikan suasana makan di warung
nasi uduk yang pada umumnya ngemper di pinggir jalan," ujar Mustofa
yang menyebutkan bahwa satu porsi nasi uduk lengkap dengan lauknya
dijual dengan harga Rp 11.000 hingga Rp 12.000.

Murtopo
© 2009 Kompas
http://resep.hangtuah.or.id
Re: Bagi yang suka keluyuran malam
#74
Author: Kayu Manis
Date: Wed, 08 Apr 2009 22:49
110 lines
7117 bytes
Sejak kapan yg suka keluyuran malam cari nasi uduk?
Jika nasi uduk yg dicari, kenapa di kepala bisa tumbuh "jengger ayam jago"?

"Hangtuah Digital Library" <hdl@hangtuah.or.id> wrote in message 
news:94f2c0ed-64c2-4061-a05a-384bbdeb4e1d@v1g2000prd.googlegroups.com...
Nasi Uduk Bang Bule

Bagi yang suka keluyuran malam, nongkrong di warung makan adalah salah
satu agenda yang kudu dilakukan. Selain untuk mengobati rasa lapar,
warung makan kerap digunakan untuk kongkow-kongkow dan bertukar
pikiran.

Di salah satu sudut Kota Bekasi, tepatnya di Jalan Mayor Oking, Pasar
Proyek, Bekasi Timur, terdapat sebuah warung nasi uduk yang selalu
ramai setiap saat meskipun tengah malam. Bahkan pejabat di Kota Bekasi
pun kerap terlihat ngobrol santai di warung ini.

Warung nasi uduk itu milik Mustofa alias Bang Bule (51). Posisinya
berada di emperan pertokoan di Kawasan Pecinan Kota Bekasi, tepatnya
sekitar 50 meter dari Pasar Proyek Kota Bekasi. Warung Bang Bule ini
buka setiap hari sejak pukul 20.30 hingga pukul 02.00.

Meskipun pejabat nongkrong di situ, jangan harap warungnya mewah
banget. Bentuknya terbilang sangat sederhana, hanya beratapkan kanopi
toko dan tanpa papan nama. Tiga meja panjang dijajarkan di emperan
toko tersebut untuk menaruh makanan dan tempat untuk makan para
pengunjung. Namun, biar pun sederhana yang mau menyantap nasi uduk
sampai harus antre.

Ramainya orang yang antre ternyata menjadi daya tarik sendiri sehingga
semakin banyak yang antre. Banyak orang yang melintas di Jalan Mayor
Oking penasaran dan ingin tahu seberapa enaknya nasi uduk di warung
tersebut. Hal itu pula yang membuat Warta Kota singgah.

Belakangan diketahui bahwa menu makanan yang disajikan di warung
tersebut cukup lengkap. Selain menu utama semur jengkol dengan bumbu
kecap khusus, Mustofa juga memiliki menu andalan lainnya, seperti soun
godog yang rasanya manis, semur tahu dan tempe, empal daging, hingga
dendeng sapi.

Menurut Rahmat, anak ke dua Mustofa, nasi uduk serta lauk-pauk buatan
ayahnya banyak digandrungi warga lantaran rasanya yang beragam.
"Makanan buatan bapak saya banyak rasanya. Nasi uduknya gurih, semur
jengkolnya asin karena disemur dengan kecap kusus sementara sayur
sounnya manis. Belum lagi rasa pedas dari sambal cabe rawit hijau,"
ujar Rahmat.

Turun -temurun

Disela kesibukannya melayani pelanggan, Mustofa menuturkan bahwa usaha
berdagang nasi uduk yang digelutinya saat ini adalah usaha turun-
temurun yang diwariskan oleh ayahnya, Mamak. "Bapak saya sudah
berdagang nasi uduk sejak tahun 60-an. Sementara saya mengikuti bapak
berdagang sejak tahun 70-an," ujar Mustofa yang juga telah menurunkan
ilmu memasak nasi uduk kepada Rahmat, anak ke duanya serta sejumlah
keponakannya.

Dikisahkan Mustofa bahwa awalnya ayahnya membuka warung nasi uduk di
areal pasar Sapi. Di tahun 60-an Pasar Sapi terletak di tepi Jalan Ir
Juanda bersinggungan dengan Kali Bekasi. Saat ini areal pasar sapi
dijadikan bangunan Pasar Proyek Bekasi. Setelah kurang lebih sepuluh
tahun berdagang nasi uduk di Pasar Sapi, Mamak dan Mustofa pindah
warung ke daerah Pasar Baru Bekasi yang terletak di dekat Terminal
Bekasi hingga tahun 1999.

"Karena di lokasi Pasar Baru kondisinya kotor dan becek, akhirnya
warung kami sepi pembeli. Maka dari itu saya memutuskan untuk pindah
lagi ke daerah Pasar Proyek itupun berdasarkan anjuran saudara saya
yang memiliki toko ini," ujar Mustofa yang tinggal di Jalan Mawar RT
05/02, Bekasi Timur, tidak jauh dari tempatnya berdagang.

Lantaran menumpang di emperan toko maka Mustofa hanya bisa berdagang
pada malam hari. Namun tidak disangka olehnya, malam hari itu justru
membawa keberuntungan. "Awalnya kami memang enggak kepikiran cari
pangsa pasar pembeli makanan di malam hari. Tapi dagang malam hari
malah ramai. Banyak warga yang datang, tidak hanya itu saja, sejumlah
pejabat di Kota Bekasi baik Walikota dan Wakil Walikota baik yang
sekarang maupun yang terdahulu sering makan di sini," ujar Rahmat.

Menurut Ali Anwar, Budayawan dan pemerhati Bekasi yang kebetulan juga
tengah menikmati nasi uduk Mustofa, dirinya merupakan salah satu
penggemar. Setiap malam setelah pulang bekerja di Jakarta, Ali Anwar
menyempatkan diri untuk makan di warung tersebut.
"Warga Bekasi kan banyak yang kerja di Jakarta. Biasanya dari Jakarta
suka terburu-buru pulang ke Bekasi karena takut ketinggalan kereta dan
lupa makan. Akhirnya makannya di Bekasi. Kebetulan warung ini
lokasinya tidak jauh juga dari Stasiun Bekasi," ujar Ali Anwar.

Semur jengkol

Lebih lanjut Ali Anwar mengatakan bahwa kekhasan makanan buatan
Mustofa ada pada lauk-pauk. "Semur jengkol dan sayur sounnya lain dari
warung nasi uduk pada umumnya. Selain itu masakan di sini sepertinya
cocok untuk lidah seluruh warga, buktinya yang datang bukan hanya
warga Bekasi asli tapi ada juga warga etnis lain," ujar Ali Anwar.
Bahkan menurut Rahmat, pelanggannya bukan hanya dari wilayah Kota
Bekasi melainkan dari wilayah Kerawang, Cikarang, hingga Jakarta
Timur.

Meskipun warung nasi uduknya sudah dikenal hampir sebagian besar warga
Bekasi, serta keuntungan yang dihasilkan sudah bisa untuk mendirikan
warung yang lebih besar dan nyaman, Mustofa enggan pindah dari tempat
berdagangnya saat ini. "Saya mau melestarikan suasana makan di warung
nasi uduk yang pada umumnya ngemper di pinggir jalan," ujar Mustofa
yang menyebutkan bahwa satu porsi nasi uduk lengkap dengan lauknya
dijual dengan harga Rp 11.000 hingga Rp 12.000.

Murtopo
� 2009 Kompas
http://resep.hangtuah.or.id 
Thread Navigation

This is a paginated view of messages in the thread with full content displayed inline.

Messages are displayed in chronological order, with the original post highlighted in green.

Use pagination controls to navigate through all messages in large threads.

Back to All Threads