Thread View: cu.indonesia
1 messages
1 total messages
Started by Hangtuah Digital Library
Sun, 12 Apr 2009 18:27
Jalan Gadjah Mada
Author: Hangtuah Digital Library
Date: Sun, 12 Apr 2009 18:27
Date: Sun, 12 Apr 2009 18:27
94 lines
6476 bytes
6476 bytes
Daerah Elite Zaman VOC Seperti inilah pemandangan Jalan Gadjah Mada, Jakarta Pusat, pada akhir abad ke-19. Masih sunyi, sepi. Tak banyak kendaraan lalu lalang. Hanya sesekali jalan tanah itu dilewati kereta kuda yang ditumpangi para pembesar Belanda. Sejak tahun 1869, jalan itu sesekali juga dilewati trem yang ditarik kuda. Sarana angkutan umum ini melayani warga Batavia dengan trayek Pasar Ikan-Kwitang. Tahun 1881 trem uap mulai beroperasi, menggantikan trem kuda yang dianggap kurang sukses. Foto ini diperkirakan dibuat pada tahun 1872 atau sebelumnya. Memperlihatkan Jalan Gadjah Mada, yang waktu itu masih bernama Molenvliet West, lengkap dengan kanal atau terusan Sungai Ciliwung yang terletak sejajar dengan jalan raya itu. Foto diambil dari ujung selatan jalan, di sekitar Harmoni, ke arah kota tua Batavia di utara. Waktu itu pembangunan Jalan Molinvliet Oost, sekarang Jalan Hayam Wuruk, belum sampai ke ujung selatannya, di mana jalan itu bertemu dengan Noordwijk, sekarang Jalan Juanda. Mungkin, karena lahan luas di ujung selatan sisi timur terusan itu belum dibebaskan Pemerintah Hindia Belanda. Seperti terlihat di sisi kanan foto, lahan itu masih berupa lahan yang menjadi bagian pekarangan rumah milik pribadi seorang warga Batavia Bangunan besar. Di sebelah kiri adalah bagian depan Hotel des Indes, hotel termegah dan termewah di Batavia kala itu. Sayang, setelah Indonesia merdeka, pada zaman Orde Baru, bangunan bekas hotel itu dihancurkan untuk pembangunan pusat perdagangan Duta Merlin, sampai sekarang. Seperti Jalan Hayam Wuruk di seberangnya, Jalan Gadjah Mada sekarang dipadati bangunan toko, pusat perdagangan, perkantoran, dan seribu- satu macam usaha, termasuk tempat-tempat hiburan malam yang bercitra mesum. Lalu lintas di sepanjang jalan itu pun selalu ramai, siang maupun malam. Kemacetan lalu lintas sudah menjadi pemandangan sehari- hari di sana. Padahal, pada akhir abad ke-19 Molenvliet masih merupakan daerah sepi yang dikelilingi hutan dan kebun. Letaknya terhitung sudah di luar kota Batavia, yang waktu itu berpusat di sekitar Taman Fatahillah, Jakarta Kota sekarang. Disanalah berdiri Stadhuis alias Balaikota, Kantor Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Pada zaman VOC, Molenvliet di tepi Kali Ciliwung merupakan daerah elite, tempat tinggal favorit para pejabat perusahaan serikat dagang Hindia Timur itu. Di sanalah, di atas kapling-kapling yang luasnya bisa mencapai ribuan meter persegi, mereka membangun istana atau rumah vila mewahnya masing-masing, lengkap dengan perumahan bagi para budak. Sampai akhir abad ke-18, Molenvleit pasti masih merupakan daerah pedalaman Batavia yang bukan cuma sepi, tetapi juga selalu gelap gulita pada malam hari. Tak heran kalau di sana pernah berdiri sebuah observatorium. Gedung teropong bintang itu dibangun seorang pastor penggemar ilmu astronomi bernama Maurits Mohr (1716-1775). Setelah VOC bangkrut pada 1799, penghuni Molenvliet berganti dengan para pengusaha Eropa dan pejabat Pemerintah Hindia Belanda yang tak kalah kaya raya. Di sana mereka berlomba-lomba membangun rumah-rumah mewah berpekarangan luas yang nyaman. Sayangnya, rumah tipe vila Belanda dari abad ke-19 atau sebelumnya, yang dulu banyak terdapat di sepanjang Jalan Gadjah Mada, kini hampir tak ada lagi. Seiring perputaran zaman, bangunan-bangunan itu, yang banyak bernilai arsitektur tinggi, berpindah tangan dari satu pemilik ke pemilik lain. Bangunan itu setelah berpindah pemilik dibongkar dan diganti dengan bangunan-bangunan baru sesuai dengan kebutuhan dan selera pemiliknya. Satu-satunya rumah tipe vila mewah peninggalan zaman VOC yang masih tersisa adalah gedung bekas rumah pribadi Rainier de Klerk, Gubernur Jenderal Belanda yang berkuasa di Batavia pada 1777-1780. Sekitar seabad kemudian, rumah itu nyaris dirobohkan pemilik berikutnya karena sudah rusak berat dimakan usia. Pemerintah Hindia Belanda kemudian membeli dan memugarnya. Gedung itu sempat dijadikan kantor Dinas Pertambangan. Pada tahun 1925 bangunan bergaya Renassans itu dijadikan kantor Arsip Negara. Namun, setelah Indonesia merdeka, gedung itu berubah menjadi Arsip Nasional. Meski pada tahun 1991 lembaga Arsip Nasional RI dipindahkan ke Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, bekas rumah Rainier de Klerk itu sampai kini tetap dikenal sebagai Gedung Arsip Nasional. Seorang pelancong yang berjalan-jalan di Batavia, suatu sore pada 1862, membuat catatan tentang Molenvliet West. βJalan berdebu itu membentang sejajar dengan sebuah terusan yang benar-benar lurus. Ketika itu, pabrik gas sedang dibangun. Di mana pun tak terlihat penerangan jalan. Namun, saya masih dapat melihat dengan jelas semua tempat yang saya lewati, rumah-rumah orang China dan Eropa, serta vila- vila kecil.β¦β Mulyawan Karim Β© 2009 Kompas http://resep.hangtuah.or.id
Thread Navigation
This is a paginated view of messages in the thread with full content displayed inline.
Messages are displayed in chronological order, with the original post highlighted in green.
Use pagination controls to navigate through all messages in large threads.
Back to All Threads