Article View: cu.indonesia
Article #80Benda-benda Purbakala di Ungaran
From: Hangtuah Digital Library
Date: Thu, 08 Feb 2007 21:50
Date: Thu, 08 Feb 2007 21:50
151 lines
9302 bytes
9302 bytes
Wisata Sejarah
Benda-benda Purbakala Terbengkalai di Ungaran
Artefak-artefak dari batu andesit berserakan di pelataran rumah
seorang warga Kampung Paren, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Ungaran
Timur, Kabupaten Semarang. Bahkan, terdapat batu yang dilihat
bentuknya tidak berbeda dengan bongkahan batu andesit biasa (batu
kali) namun terpahat halus.
Seorang sarjana arkeolog yang kini tinggal di Ungaran, Rahmat
Wibisono, memastikan bongkahan batu itu merupakan kemuncak atau hiasan
atap candi pada masa kejayaan berkembangnya ajaran Hindu di tanah
Jawa. Karena keawaman masyarakat, benda bernilai sejarah itu kini
dicat warna biru untuk hiasan kolam di sebuah rumah di Jl S Parman,
Ungaran.
Tidak jauh dari tempat ditemukan kemuncak tersebut, dua bongkah
batu kusam berlapis tanah dan ditumbuhi lumut tergeletak tak terawat
di tepi jalan menuju Kampung Paren Kelurahan Sidomulyo Kecamatan
Ungaran Timur.
"Jika dicermati, tampak jelas bahwa batu andesit itu merupakan
fragmen arca Ganesa, putera Siwa yang berkepala gajah," terang
pengamat budaya asal Surabaya tersebut.
Didampingi Kirman (67), warga Kampung Paren RT 2/RW I Sidomulyo
Kecamatan Ungaran Timur, Wibi menunjukkan sebuah yoni berukuran
sekitar 1 meter x 1 meter x 1 meter yang terguling di samping rumah
warga. Separuh bagian yoni yang ukurannya lebih besar dibanding yoni
lain yang pernah ditemukan di Kabupaten Semarang itu tertanam di
tanah.
"Bagian penting dari bangunan peribadatan umat Hindu itu tampak
terbengkalai. Yoni dari batu andesit yang masih tampak utuh, bahkan
gigi figur naga pada ceratnya masih terlihat jelas," papar Wibi.
Wibi menjelaskan, yoni biasanya ditemukan peneliti arkeologi di
bagian ruang utama candi Hindu. Yoni merupakan perujudan dari alat
kelamin perempuan dan biasanya berpasangan dengan lingga yang
merupakan perwujudan alat kelamin lelaki. Dalam ritual pendukung
budayanya, lingga dan yoni yang diyakini sebagai pembawa kesuburan itu
dialiri air untuk menyucikannya," terangnya.
Lebih jauh Wibi menyadari kurangnya pengetahuan warga terhadap
benda-benda purbakala. Warga setempat menganggap batu-batu itu bukan
barang yang bernilai sejarah. "Mereka membiarkan saja bongkah-bangkah
batu itu, bahkan memanfaatkannya untuk fungsi lain tanpa menyadari
bahwa tindakan mereka itu bertentangan dengan UU No 5/1992 tentang
Benda Cagar Budaya," tandasnya.
Kirman mengaku, dari tepi Jl S Parman dusun Sikenteng hingga Bukit
Sikere sepanjang 500 meter, masih banyak dijumpai peninggalan
purbakala sejenis.
Perihal batu kali berbentuk kubus yang dipahat dengan berbagai
hiasan itu, Kirman mengaku sudah ada di samping rumahnya sejak dia
masih kecil. "Kata nenek saya dulu, batu itu sudah ada di sini sejak
lama. Waktu itu batu-batu besar tersebut tertimbun batu-batu yang
lebih kecil. Tetapi sekarang batu-batu itu sudah diambili dan
dimanfaatkan orang sekitar," ujarnya.
Keterangan Kirman itu diakui warga setempat. Sebagian bongkah batu
kali itu telah menjadi batu fondasi rumah mereka. Ada pula batu yang
dimanfaatkan untuk undakan rumah. Sedangkan yang pecah tak berbentuk
lagi, tergeletak begitu saja di pekarangan rumah.
Selama ini, warga sekitar lokasi ditemukannya benda-benda
purbakala itu, secara turun-temurun menganggapnya sebagai reruntuhan
Candi Slumprit. Tetapi karena tak ada kepedulian pemerintah, kini batu-
batu candi bernilai sejarah itu banyak yang telah dijadikan fondasi
rumah mereka.
Bahkan yang lebih memrihatinkan, menurut warga, beberapa batu
pernah dilarung ke laut menjelang pembangunan pabrik limun Highlife di
dekat Bukit Sikere pada tahun 1987. Karena perbedaan kepercayaan, batu-
batu dari reruntuhan candi Hindu itu dinilai memiliki pengaruh buruk
terhadap kehidupan manusia yang menempati tanah di atasnya.
Batu-batu candi sejenis yang tersisa, menurut Gatot diantaranya
kini berada di rumah Tiyok. Oleh warga, batu itu dianggap sebagai
meja. Selain itu, ditemukan juga batu-batu persegi yang tidak berukir.
Batu-batu itu lantas disusun seperti meja dan kursi yang melingkar.
Pengamat budaya Sanggar Seni Gedongsongo, MA Sutikno, mengatakan
jika dicermati, batu yang dimaksud sebagai meja oleh warga itu adalah
bagian dari atas candi Hindu.
Ditilik dari lokasi penemuan asli benda-benda purbakala (isitu),
setidaknya ada tiga lokasi. Di tepi Jl S Parman, peninggalan purbakala
itu ditemukan warga di permukaan tanah. Di Gunuk Sikenteng dan Sikere,
benda-benda purbakala itu ditemukan secara tidak sengaja dari dalam
permukaan tanah saat digali.
"Kondisi ini sangat memrihatinkan. Batu-batu candi yang bernilai
sejarah tinggi dibuang ke laut atau dijadikan fondasi rumah. Padahal,
berdasarkan dimensi yoni yang ditemukan di Kampung Paren, diyakini
Candi Slumprit jauh lebih besar daripada candi-candi di Gedongsongo.
Ukuran yoni ini satu setengah kali lebih besar dibanding yoni di
Gedongsongo, jadi ukuran candinya pun bisa dipastikan lebih besar
daripada candi-candi di Gedong Songo," jelasnya.
Jika dilihat dari terbengkelainya benda-benda purbakala tersebut,
jelas menunjukkan tidak adanya kepedulian Pemkab Semarang maupun
instansi-instansi kepurbakalaan lain terhadap peninggalan sejarah.
Selain situs Candi Slumprit, sebuah yoni dan arca Nandi juga
ditemukan tidak terawat di sebelah reservoir PDAM Dukuh Krajan RT 1/RW
I Desa Candirejo Kecamatan Ungaran Barat. Arca Nandi juga pernah
ditemukan di sawah Siroto atau Sireco.
Arca Nandi, yang sebelumnya berada di bawah pohon beringin di tepi
lahan yang oleh warga setempat disebut sebagai sawah Siroto atau
Sireco itu, kini tidak tak bisa ditemui lagi. "Di sini dulu juga
banyak batu-batu mirip gamelan, tetapi sudah dipecahi warga untuk
kepentingan lain," tutur Mariyoto (36), warga Siroto.
Artefak-artefak dari batu andesit di Desa Candirejo itu, kini
hanya bisa dijumpai di sepetak lahan berpagar tembok di tepi jalan
desa dekat reservoir PDAM. Selain arca Nandi, Lembu Andini yang oleh
penganut Agama Hindu diyakini sebagai wahana suci Dewa Siwa.
Di lokasi itu juga terdapat batu-batu persegi panjang yang kini
disusun mirip nisan makam. Ngadiman memastikan bahwa tempat itu bukan
kuburan. Menurut dia, di dalam tanah diantara pasangan-pasangan nisan
itu hanya ditanami senjata zaman dulu, bukan jasad manusia. Kini yoni,
arca, kemuncak maupun batu-batu yang diduga sebagai reruntuhan candi
itu tampak ditumbuhi lumut.
"Sejak saya kecil, kepala Lembu Andini itu memang sudah patah.
Tetapi waktu itu, kepala tersebut masih ada dan diletakkan di depan
badannya. Sekarang karena sudah tidak ada yang merawat, kepala Lembu
Andini itu hilang, mungkin diambil orang. Tempat ini juga sudah tidak
ada lagi yang membersihkan karena tidak ada perhatian pemerintah,"
ujar Ngadiman (77), warga setempat. Namun, arca serupa Lembu Andini
diakui Pujiati (37), warga Dukuh Kalipucung Desa Candirejo masih
ditemukan utuh dekat rumahnya.
Dinas Purbakala Propinsi Jateng pernah menyerahkan perawatan benda-
benda peninggalan sejarah itu kepada Rohmat yang tinggal di tepi
jalan. Tapi karena tidak ada kepedulian lagi dari pemerintah, akhirnya
benda-benda tersebut dibiarkan saja sampai sekarang.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Semarang ataupun
instansi-instansi arkeologi pemerintah, menurut warga tak pernah
menengok lagi situs itu. "Kata nenek saya, beberapa patung yang
diambil termasuk Siwa dan Ganesa. Katanya untuk dirawat di museum,"
tambah Kirman.
(Khamim)
Kamis, 8 Februari 2007
CopyRight ©2000 Suara Karya Online
Technical Details
Message-ID:
<1170971426.023110.316870@s48g2000cws.googlegroups.com>Path:
arc1-ca.pugleaf.net!g2news2.google.com!postnews.google.com!s48g2000cws.googlegroups.com!not-for-mailShow Full Headers
Complete Article Headers
X-Google-Thread: 111597,5ec0225d0ed0e18b,start X-Google-Thread: 115278,5ec0225d0ed0e18b,start X-Google-Thread: 1100e6,5ec0225d0ed0e18b,start X-Google-Thread: ff81f,5ec0225d0ed0e18b,start X-Google-Thread: f4e1d,5ec0225d0ed0e18b,start X-Google-Attributes: gid111597,gid115278,gid1100e6,gidff81f,gidf4e1d,public X-Google-Language: INDONESIAN,ASCII Path: arc1-ca.pugleaf.net!g2news2.google.com!postnews.google.com!s48g2000cws.googlegroups.com!not-for-mail From: "Hangtuah Digital Library" <hdl@hangtuah.or.id> Newsgroups: cu.indonesia,alt.soc.indonesia.mature,soc.culture.indonesia,alt.culture.indonesia,alt.sci.tech.indonesian Subject: Benda-benda Purbakala di Ungaran Followup-To: cu.indonesia, alt.soc.indonesia.mature, soc.culture.indonesia, alt.culture.indonesia, alt.sci.tech.indonesian Date: 8 Feb 2007 13:50:26 -0800 Organization: http://groups.google.com Lines: 152 Message-ID: <1170971426.023110.316870@s48g2000cws.googlegroups.com> NNTP-Posting-Host: 202.155.90.92 Mime-Version: 1.0 Content-Type: text/plain; charset="iso-8859-1" Content-Transfer-Encoding: quoted-printable X-Trace: posting.google.com 1170971432 26501 127.0.0.1 (8 Feb 2007 21:50:32 GMT) X-Complaints-To: groups-abuse@google.com NNTP-Posting-Date: Thu, 8 Feb 2007 21:50:32 +0000 (UTC) User-Agent: G2/1.0 X-HTTP-UserAgent: Mozilla/5.0 (Windows; U; Windows NT 5.1; en-US; rv:1.8.0.9) Gecko/20061206 Firefox/1.5.0.9,gzip(gfe),gzip(gfe) X-HTTP-Via: 1.1 proxy:3128 (squid/2.5.STABLE11) Complaints-To: groups-abuse@google.com Injection-Info: s48g2000cws.googlegroups.com; posting-host=202.155.90.92; posting-account=KTOidgwAAADVX--JTGhoPqIWuDY57wJk