🚀 go-pugleaf

RetroBBS NetNews Server

Inspired by RockSolid Light RIP Retro Guy

Article View: cu.indonesia
Article #79

Sastra Multikultural

#79
From: Hangtuah Digital Library
Date: Thu, 08 Feb 2007 08:24
197 lines
12806 bytes
Sastra Multikultural

Di masa kecil, Karl Shapiro, seorang penyair Amerika, lahir pada tahun
1913, meragukan jika ambisi literernya bisa tercapai karena sebelumnya
ia tidak pernah mendengar penyair mana pun yang bernama seperti
Shapiro di Amerika. Menurut pemahamannya waktu itu, sastrawan Amerika
identik dengan tiga ciri: orang kulit putih, biasanya laki-laki, dan
namanya terdiri dari tiga kata, dengan tiga nama yang terdengar sangat
"Inggris", sebut saja Harriet Beecher Stowe, John Hoyer Updike, dan
Henry Wadsworth Longfellow.

Namun, seiring dengan makin banyaknya imigran, tiga kesan itu perlahan-
lahan mengalami erosi. Maka kemudian lahirlah generasi penulis seperti
dirinya yang keturunan Hispanik, Amy Tan dan Maxine Hong Kingstone
yang merupakan keturunan China, Toni Morrison yang merupakan keturunan
Afrika, dan Bharati Mukherjee sampai Jumpa Lahiri yang berdarah India.
Amerika Serikat pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 merayakan
apa yang kemudian kita sebut sebagai sastra multikultural.

Multikulturalisme: sekilas pandang
Perkembangan sastra multikultural tidak bisa dilepaskan dari
perkembangan-perkembangan global dengan kecepatan yang sangat
menakjubkan. Melunturnya batas-batas geografis dua dasawarsa setelah
berakhirnya Perang Dunia II menyebabkan arus perpindahan manusia dari
satu negara menuju negara lain menjadi lebih mudah. Bangsa dan
kebangsaan sebagai produk zaman pencerahan beserta batasan-batasan
formalnya makin menuntut pendefinisian ulang.

Pada awal tahun 1970-an muncul gerakan-gerakan multikultural-pertama
muncul di Kanada dan Australia, kemudian menyebar ke Amerika Serikat
dan Inggris sebelum disebarkan ke negara-negara yang sudah telanjur
dicap sebagai Dunia Ketiga. Gerakan-gerakan multikultural ini dalam
beberapa hal dipicu oleh semakin kuatnya ketertarikan para akademisi
Barat terhadap studi-studi kultural di berbagai belahan dunia.

Karena gerakan-gerakan multikultural tumbuh tak terencana dalam banyak
sekali konteks politik yang berbeda-beda, ia memperlihatkan suatu
pilahan kelompok-kelompok yang beragam, dan sejauh ini gagal untuk
menciptakan suatu pernyataan filosofis yang koheren dari prinsip-
prinsip sentralnya. Dengan kata lain, ia kekurangan suatu fokus dan
identitas yang jelas.

Multikulturalisme dipahami bukan sebagai sebuah doktrin politik dengan
suatu kandungan programatiknya maupun suatu aliran filsafat dengan
sebuah keketatan teori tentang ruang hidup manusia di dunia, namun
sebagai suatu perspektif atau suatu cara pandang kehidupan manusia.
Menurut Bikhu Parekh, ada tiga prinsip utama dalam cara pandang
semacam ini.

Pertama-tama, manusia secara kultural tertanam dalam suatu masyarakat,
dalam pengertian bahwa mereka tumbuh dan hidup dalam sebuah dunia yang
terstruktur secara kultural dan mengorganisasikan kehidupan serta
hubungan-hubungan sosial mereka dalam suatu sistem makna dan
signifikansi yang diturunkan secara kultural pula. Ini tidak berarti
bahwa mereka ditentukan sepenuhnya oleh budayanya dan tidak bisa
bergerak melampaui batas-batas budaya tersebut, namun mereka terbentuk
secara mendalam oleh dan memandang dunia dari dalam suatu budaya yang
membentuknya.

Yang kedua, budaya-budaya berbeda mewakili berbedanya sistem makna dan
visi-visi tentang kehidupan yang baik. Karena tiap-tiap budaya
menyadari cakupan terbatas dari kapasitas-kapasitas dan emosi manusia
dan hanya merengkuh sebagian totalitas eksistensi manusia, ia
memerlukan budaya lain untuk membantu memahami budayanya sendiri
dengan lebih baik, memperluas horizon intelektual dan moralnya,
memperlebar imajinasinya, dan menyelamatkannya dari narsisisme dan
menjaganya dari godaan-godaan yang gamblang untuk mengabsolutkan
dirinya sendiri. Hal ini mirip dengan bagaimana Barat melihat citra
diri yang rasional dengan cara melihat Timur yang eksotik dan
irasional seperti yang ditengarai oleh Edward Said.

Yang ketiga, setiap budaya secara internal bersifat plural dan
mencerminkan suatu dialog yang berkelanjutan antara tradisi-tradisinya
dan arus pemikiran yang berubah dan berbeda-beda. Ini tidak berarti
bahwa ia meniadakan koherensi dan identitas, namun bahwa identitasnya
bersifat plural, cair, dan terbuka. Kebudayaan tumbuh dari interaksi-
interaksi sadar dan tidak sadar satu sama lain, mendefinisikan
identitas mereka dalam pengertian apa yang mereka anggap signifikan,
dan setidaknya bersifat multikultural dalam asal mula dan
konstitusinya.

Sastra multikultural
Dalam suatu dunia yang makin bersifat multikultural dan multinasional
ini, pertanyaan-pertanyaan tentang asimilasi dan multikulturalisme
telah memperoleh perhatian yang besar. Di Eropa dan Amerika, makin
banyaknya imigran dari Afrika dan Asia memunculkan fenomena tersendiri
tentang identitas penghuni baru tersebut beserta keturunannya. Mereka
datang ke sentra-sentra kapitalisme dan kultur dunia tersebut dengan
membawa seperangkat nilai dan perilaku dari kultur asal mereka,
menginteraksikan nilai dan perilaku tersebut dengan nilai dan perilaku
tempat baru mereka.

Dalam pola interaksi semacam itu terjadi banyak sekali varian
interaksi dan pola hubungan sosial. Ketidakseimbangan dalam pola
hubungan sosial antara pribumi dan pendatang, salah satu minoritas
etnis maupun agama dengan kelompok mayoritas menjadi lahan subur bagi
konflik-konflik sosial. Para imigran dan keturunannya inilah yang
kemudian memiliki andil besar dalam gerakan sastra multikultural di
Eropa dan Amerika. Di Inggris misalnya kita mengenal Kazuo Ishiguro,
Amerika Serikat dengan Amy Tan, Bharati Mukherjee, Maxine Hong
Kingstone, Perancis dengan Amin Malouf dan Thahar Ben Jelloun, serta
sederet sastrawan dunia dari setiap negara yang mengangkat tema- tema
kultural dalam karya sastra mereka.

Para pelopor sastra multikultural meyakini bahwa pencarian akar-akar
budaya maupun pertanyaan eksistensial tentang siapa diri kita
sebenarnya, yang merupakan suatu bentuk dominan dari masyarakat dan
sastra akhir abad kedua puluh, haruslah selalu menjadi sebuah dialog-
dalam kasus sastra antara teks dan pembacanya. Sastra, seperti wilayah
pengetahuan lain, menjadi salah satu tempat untuk kontestasi dan
negosiasi, sarana untuk unjuk diri dan penggubahan diri lagi.

Sebagai suatu tempat negosiasi sastra juga berfungsi, melalui analisis
tentang identitas kultural yang berbeda, sebagai suatu saluran menuju
warisan kebangsaan. Studi pengungkapan identitas-identitas kultural
dalam sastra juga memungkinkan kita untuk bercermin dengan lebih dalam
tentang apa yang kita maksudkan dengan warisan kebangsaan.

Warisan kebangsaan sendiri merupakan istilah yang rumit karena ia
mengandung elemen-elemen beragam di dalamnya. Definisi apa pun akan
membuka banyak perdebatan, karena konsep ini terdiri dari tradisi-
tradisi, bangunan, tempat-tempat yang mempunyai makna khusus bagi
sebuah kelompok, termasuk bahasa-bahasanya.

Beranjak dari pandangan tersebut, seperti yang diungkapkan oleh Melani
Budianta, sastra tidak dilihat hanya dalam pengertian mimetik, sebagai
cermin bagi hubungan lintas budaya yang pernah atau sedang terjadi.
Sastra di sini, baik teks maupun aktivitas sastra, adalah juga suatu
praksis budaya, sosial, atau bahkan politik yang ikut membentuk atau
bermain dalam interaksi lintas budaya tersebut. Sastra ini,
menggunakan bahasa sebagai medium pengungkapan, menyelidiki hubungan
antara sejarah sebagai konteks untuk suatu pemahaman identitas. Teori-
teori poskolonialisme dan multikulturalisme menyediakan kita sarana-
sarana untuk interpretasi, termasuk pula dalam suatu konteks global.

Diskursus sastra bisa dilihat sebagai suatu tempat di mana bentuk-
bentuk sosial organisasi berkaitan dengan sistem-sistem penanda dalam
produksi teks sehingga menghasilkan makna dan nilai dari suatu budaya
(Muecke 1992). Teks merupakan kehidupan yang diceritakan, dan sering
kali orang dari bangsa yang semula terkolonisasi atau anggota dari
budaya minoritas, di mana norma-norma kultural dan mitologis
dihadapkan dengan suatu latar belakang perilaku konvensional.

Maka sastra dalam hal ini dapat berfungsi mengukuhkan kecenderungan
dominan, misalnya melalui stereotip atau cara pandang yang esensialis.
Atau sebaliknya, sastra dapat mempertanyakan konstruksi-konstruksi
sosial yang ada secara kritis dan menawarkan perspektif yang berbeda,
maupun untuk memberikan representasi diri sendiri yang berbeda dari
stereotip-stereotip yang ada. Identitas budaya muncul bukan sekadar
sebagai "warna lokal", melainkan sebagai suatu ekspresi budaya yang
menggugat atau menawarkan alternatif terhadap citraan yang beredar di
masyarakat.

Sastra multikultural di Indonesia
Ketika pada dekade 1980-an Arief Budiman dan gugus intelektual
organiknya menawarkan sastra kontekstual sebagai sarana untuk lebih
memeriahkan sastra Indonesia, tawaran semacam itu, menurut saya, lebih
mencerminkan respons terhadap studi-studi kultural yang sedang
menggejala saat itu. Dari sisi yang hampir sama, Melani Budianta
menawarkan pada kita apa yang ia sebut sebagai sastra subkultur, yang
dihadapkan dengan sastra kanonik atau mainstream meskipun batas-batas
di antara dua pemilahan ini tidaklah begitu rapat.

Dalam arus sastra multikultural inilah kita kemudian bisa menempatkan
novel-novel Remy Sylado, Veven Sp Wardhana, dan Lan Fang, yang
terutama berkisah tentang etnis China, Para Priayi-nya Umar Kayam, dan
Pengakuan Pariyem-nya Linus Suryadi sebagai karya-karya yang berbasis
multikultural. Sementara ini memang terdapat dugaan bahwa sastra
multikultural, yang terutama disokong muatan-muatan subkultur dan
berbagai latar sosial politiknya, kadangkala terjatuh hanya sebagai
deposit dari permasalahan kompleks sosial, budaya, dan politik dari
subkultur dan kultur dominan. Dan memang, ketika tidak tergarap dengan
baik, sastra multikultural hanya akan memindahkan realitas ke dalam
bentuk fiksional tanpa estetika. Di sinilah kemudian sastra
multikultural banyak digugat.

Namun, apa pun tuduhannya, gerakan semacam ini mempunyai proyeksi
terhadap kontinuitas kehidupan berbangsa yang saat ini sedang terkoyak
oleh berbagai macam konflik horizontal di seluruh penjuru negeri. Kita
semakin dihadapkan untuk lebih cerdas dalam memaknai berjejalnya
fenomena sosial-politik ini dan secara jeli mengangkatnya ke dalam
dunia fiksional. Sebuah karya sastra yang baik akan mampu mengajak
pembacanya untuk menggali apa yang telah menjadi warisan masa lalu
kita.

Ia menjadi ruh penggerak bagi pembacanya untuk berusaha mendefinisikan
kembali apa yang selama ini mereka terima sebagai bagian hidup mereka.
Seperti Amy Tan yang terus bertanya-tanya tentang identitas dirinya
sebagai orang China atau orang Amerika dalam karya-karyanya, kita
menunggu apakah anak bangsa ini, di masa yang akan datang, akan mampu
memberikan jawaban yang memuaskan tentang siapa dirinya dan sampai
pada pernyataan tokoh dalam novel Song of Solomon: "Sekarang aku tahu
apa yang sebelumnya tidak kuketahui, siapa dan apakah diriku."

Dwicipta - Cerpenis
Minggu, 28 Januari 2007
Copyright © 2002 Harian KOMPAS
Technical Details
Message-ID: <1170923078.583928.255830@j27g2000cwj.googlegroups.com>
Path: arc1-ca.pugleaf.net!g2news2.google.com!postnews.google.com!j27g2000cwj.googlegroups.com!not-for-mail

Show Full Headers
Complete Article Headers
X-Google-Thread: 111597,9163f24ad80f4a18,start
X-Google-Thread: 115278,9163f24ad80f4a18,start
X-Google-Thread: 1100e6,9163f24ad80f4a18,start
X-Google-Thread: ff81f,9163f24ad80f4a18,start
X-Google-Thread: f4e1d,9163f24ad80f4a18,start
X-Google-Attributes: gid111597,gid115278,gid1100e6,gidff81f,gidf4e1d,public
X-Google-Language: INDONESIAN,ASCII
Path: arc1-ca.pugleaf.net!g2news2.google.com!postnews.google.com!j27g2000cwj.googlegroups.com!not-for-mail
From: "Hangtuah Digital Library" <hdl@hangtuah.or.id>
Newsgroups: cu.indonesia,alt.soc.indonesia.mature,soc.culture.indonesia,alt.culture.indonesia,alt.sci.tech.indonesian
Subject: Sastra Multikultural
Followup-To: cu.indonesia, alt.soc.indonesia.mature, soc.culture.indonesia, alt.culture.indonesia, alt.sci.tech.indonesian
Date: 8 Feb 2007 00:24:38 -0800
Organization: http://groups.google.com
Lines: 198
Message-ID: <1170923078.583928.255830@j27g2000cwj.googlegroups.com>
NNTP-Posting-Host: 202.155.90.92
Mime-Version: 1.0
Content-Type: text/plain; charset="iso-8859-1"
Content-Transfer-Encoding: quoted-printable
X-Trace: posting.google.com 1170923095 1464 127.0.0.1 (8 Feb 2007 08:24:55 GMT)
X-Complaints-To: groups-abuse@google.com
NNTP-Posting-Date: Thu, 8 Feb 2007 08:24:55 +0000 (UTC)
User-Agent: G2/1.0
X-HTTP-UserAgent: Mozilla/5.0 (Windows; U; Windows NT 5.1; en-US; rv:1.8.0.9) Gecko/20061206 Firefox/1.5.0.9,gzip(gfe),gzip(gfe)
X-HTTP-Via: 1.1 proxy:3128 (squid/2.5.STABLE11)
Complaints-To: groups-abuse@google.com
Injection-Info: j27g2000cwj.googlegroups.com; posting-host=202.155.90.92;
   posting-account=KTOidgwAAADVX--JTGhoPqIWuDY57wJk